Monday, 27 April 2009

Rp.50.000,- yang pertama dari investasi mandiri

Setelah 3 bulan menunggu hampir putus asa akhirnya dapat juga hasil investasiku,... habis hampir semua bisnis internet sudah saya jalani, sudah keluar uang lumayan sih.... terutama biaya online... akhirnya ada setetes air... habis gimana lagi..ngandalin google adsenseku stagnan di 10 dolar...adsensecamp malah cuma 5000 rupiah..bisnis ebook susah juga .... ga tau lah mana yang akan lebih menghasilkan
tadinya saya sih cuman gambling dan ga percaya bisnis ini, tapi saya pikir keluar modal sedikit tidak membuat saya miskin..tapi jika berhasil , mungkin akan sangat memuaskan..... Sebenarnya ini sama sekali belum bisa dikatakan berhasil.. tapi paling tidak ada sedikit harapan bahwa ini bukanlah kebohongan...meskipun sulit...tapi bisa menjadi kenyataan jika kita bekerja keras...
selama ini saya baru beriklan yang gratis..rencananya mau iklanin di tempat yang banyak pengunjungnya meskipun harus bayar...
ini screen shoot hasil pertamaku ..


tertarik gambling? gabung disini

Thursday, 23 April 2009

SUASANA ANTRI

Ini adalah suasana antrian penerima BLT..wah panjang banget... makanya sering diplesetkan Bantuan Lama Tenan....


Lho...ini dibawah kok ada lagi yang ngantri..BLT juga? kalo ini antrian Guru Guru Tidak Tetap Di Dinas Dikpora kebumen yang mengantri insentif dari pemerintah ..tapi kok ga ada bedanya dengan BLT
Sekarang perhatikan gambar di bawah ini... foto rapat anggota DPR yang terhormat... lho..apa hubunganya..? nanti saya kupas tuntas...tas...

Coba kita bedakan keempat foto foto diatas.... Betapa Ironisnya suasana di negeri ini..... Sementara ada orang orang yang harus bersusah payah menahan haus lapar dan rasa malu demi mendapatkan uang 200 rbu perbulan...sementara ada yang sambil tidur dapat 200 ribu sehari...

Wednesday, 22 April 2009

Suksesi kepemimpinan

Suksesi kepemimpinan adalah suatu proses peralihan dari suatu generasi ke generasi yang lain, selanjutnya untuk memimpin sekelompok orang dalam satu wilayah atau lokal tertentu dan untuk jangka waktu tertentu. Suksesi bukanlah perkara yang mudah dan sederhana. Itulah yang dirasakan para sahabat sepeninggal Rasulullah saw. Sejarah telah mencatat betapa mereka sangat hati-hati memilih pengganti Nabi.

Kepemimpinan adalah amanah. Oleh karena itu, setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawabannya di sisi Allah SWT. Rasulullah saw bersabda, ''Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawabannya ...'' (Mutafaq 'alaih). Dan, amanah adalah salah satu ciri mukmin (QS Al Mukminuun (23) ayat 8).

Berdasarkan hal itu kepemimpinan dalam Islam lebih ditempatkan dalam konteks tanggung jawab. Islam mengajarkan beberapa hal penting di seputar suksesi kepemimpinan.

Pertama, seorang Muslim harus menjauhi sikap pilih kasih dan kecenderungan primordialisme yang sempit ketika mengajukan calon pemimpinnya. Rasulullah saw mengingatkan tentang hal ini seperti dalam hadis di atas.
Kedua, kita dilarang memberikan jabatan tertentu kepada orang yang memintanya dengan ambisius. Jabatan atau tugas kepemimpinan hanya berhak diberikan kepada orang yang ikhlas yang mau menerimanya karena ia dipercaya untuk mengemban amanah kepemimpinan itu.

Ketiga, calon seorang pemimpin yang baik dan ikhlas dapat dinilai dari keberpihakannya kepada rakyat banyak. Ia, dalam menjalankan kepemimpinannya, selalu memprioritaskan umat daripada kepentingan pribadi, keluarga, segelintir atau sekelompok orang. Suatu malam Khalifah Umar bin Khattab keliling kota tanpa pengawal.
Ia terkejut ketika mendengar tangis anak kecil dari sebuah rumah. ''Anak saya menangis karena lapar,'' kata sang ibu. Dilihatnya sang ibu tengah memasak batu untuk ''menenangkan'' tangis anaknya.

aSeketika Umar kembali ke istana. Ia pun kembali ke ibu itu dengan memanggul sekarung gandum. Seorang sahabat keheranan melihat Umar, sang kepala negara, memanggul sendiri gandum itu. Ia akhirnya mencoba membantu Umar. Umar menolaknya.

''Apakah engkau sanggup memikul pula dosa-dosaku di akhirat nanti,'' tanya Umar. Akhirnya, patut kita renungkan pidato Abu Bakar ra pada saat pelantikannya sebagai khalifah (kepala negara):

''Orang yang lemah di antaramu menjadi kuat di sisiku sehingga aku memberikan hak-haknya kepadanya. Dan, orang-orang yang kuat di antaramu menjadi lemah di sisiku sehingga aku mengambil darinya barang-barang yang bukan haknya. Taatilah aku selama aku taat kepada Allah SWT dan Rasul-Nya dan jika aku tidak taat, maka tidak ada keharusan bagi kalian untuk taat kepadaku.'' Wallaahu a'laam bish shawaab. - ahi

Saturday, 18 April 2009

JAGALAH LIDAH KITA

pada suatu hari, tikus-tikus berkumpul dan menggelar seminar akbar. Tujuannya untuk mencari masukan tentang cara yang efektif menghadapi ancaman kucing. Lalu, kata Sahibul Hikayat, seluruh peserta seminar sepakat untuk membikin ''kalung krincingan'' buat si kucing, musuh bebuyutan mereka, agar langkahnya dapat dideteksi, dan tikus-tikus pun mudah menyelamatkan diri.

Namun, suasana seminar tikus ini menjadi agak tegang ketika pembahasan sampai pada pertanyaan, ''Siapa di antara mereka yang berani memasang kalung itu ke leher si kucing?'' Seluruh peserta terdiam dan tak satu pun bersedia menyanggupinya. Dari kisah ini lalu muncullah ungkapan Arab, ''Ma ashal al-kalam wa ma ash'ab al-'amal Betapa mudah berkata, dan betapa sulit mewujudkan perkataan itu''.

Kenyataan seperti di atas, sering kita saksikan dalam kehidupan di sekeliling kita. Kita sering melihat orang yang perkataannya di depan forum begitu mempesona, menarik hati, dan mengundang tepuk tangan meriah. Sayangnya, tak jarang semua itu sekadar ucapan dan isapan jempol. Allah SWT pernah mengingatkan Nabi SAW perihal orang seperti ini.

''Dan di antara manusia ada yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya atas kebenaran isi hatinya, padahal ia adalah penantang yang paling keras.'' Q. S. 2: 204.

Ayat ini, turun berkenaan dengan olah Akhnas bin Syarik, seorang yang menyatakan keislamannya secara terbuka di depan Nabi SAW dan kaum Muslimin. Tapi, ia sesungguhnya seorang munafik, yang perkataannya tak sesuai dengan perbuatannya.

Sikap mental hipokrit dan budaya semangat forum yang dualistik, seperti diperlihatkan Akhnas, sungguh sangat tidak sejalan dengan nilai-nilai keislaman. ''Mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat. Sungguh besar murka Allah bila kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.'' Q.S. 61: 2-3. Tidak heran bila Nabi SAW selalu mengingatkan agar kita berkata benar atau berdiam diri.

Pada suatu hari Nabi SAW kedatangan seorang tamu yang kelihatannya cukup beken. Dalam pembicaraannya dengan Nabi, orang itu selalu berusaha untuk mengungguli setiap kata yang diucapkan oleh beliau.

Setelah orang itu berlalu, Nabi SAW berkata kepada para sahabatnya, ''Allah SWT tidak suka kepada orang tadi dan orang-orang lain yang serupa. Mereka terlalu biasa memutar-balikkan lidahnya kepada setiap orang, seperti sapi di tempat gembalaan. Dan seperti itu pula Allah kelak akan memutar-mutarkan lidah dan wajah mereka dalam api neraka.''